Adjie Surya Kelana
Penstudi Hubungan Internasional –
Universitas Andalas
Hubungan
Internasional merupakan salah satu studi yang sudah sangat lama digunakan dalam
kajian sosial dan politik. Pada mulanya berkembang karena adanya niat dari
berbagai negara yang menginginkan suatu perdamaian akibat konflik (perang)
berkepanjangan yang terjadi di negara-negara benua Eropa. Konflik yang
mengakibatkan hadirnya korban-korban jiwa, ekonomi, dan aspek-aspek lainnya
dianggap tidak menjunjung Hak-Hak Asasi Manusia yang seharusnya berkehidupan
merdeka.
Proses
menuju perdamaian menjadi salah satu titik tolak terciptanya perdamaian. Proses
tersebut bermacam-macam, ada yang menggunakan jalur diplomasi, hukum,
arbitrase, atau perjanjian-perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara
bersangkutan.
Indonesia
sebagai suatu negara merdeka yang diresmikan melalui pidato proklamasi presiden
pertama, Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 menggunakan strategi diplomasi
dengan mengirimkan para diplomat ke negara-negara yang ada di dunia untuk
mendapatkan pengakuan akan kedaulatan Indonesia saat itu. Demi tercapainya
kemerdekaan yang diidam-idamkan masyarakat.
Diplomasi
menjadi bagian penting dalam terciptanya perdamaian. Ibaratkan bersilaturrahmi
ke rumah tetangga, maka sekat-sekat atau permasalahan yang terjadi selama
berkehidupan bermasyarakat bisa diselesaikan dengan komunikasi internal yang
baik. Diplomasi yang didasarkan atas kepentingan nasional suatu negara menjadi
senjata utama bagi seorang diplomat dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Tokoh-tokoh
seperti Agus Salim, Moh. Hatta, dan diplomat Indonesia lainnya sebelum
kemerdekaan berusaha mencari kedaulatan tersebut ke berbagai negara seperti
Belanda, Mesir, Palestina, dan lain-lain. Sehingga pada intinya, diplomasi itu
bicara mengenai kepentingan nasional. Oleh karena itu, tujuan akhir dari
diplomasi tersebut adalah sebuah persetujuan akan kepentingan nasional sebuah negara.
Dalam
berdiplomasi, tidak akan tercapai suatu kepentingan nasional jika sang diplomat
menyampaikan maksud dan tujuan dengan tidak hati-hati. Penting sekali untuk
mengetahui kiat-kiat yang digunakan diplomat-diplomat ulung pada saat zaman
penjajahan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu-ilmu
falsafah Minangkabau yang tertuang dalam pepatah-pepatah adat Minangkabau.
Falsafah Minangkabau
“Taimpik Nak Diateh, Takuruang Nak Dilua” (terhimpit harus di atas, terkurung harus di luar)
merupakan salah satu falsafah yang sangat bagus sekali jika digunakan dalam
berdiplomasi. Jika dikaitkan dengan konteks diplomasi, maka makna yang tersirat
adalah seorang diplomat harus cerdas dan pandai membaca situasi serta kondisi
agar bisa menyelamatkan kepentingan nasionalnya.
“Babaliak Ka Surau” (kembali
ke surau). Falsafah yang satu ini
merupakan sebuah proses yang dilakukan pria Minangkabau untuk memperdalam
ilmu-ilmu keagamaan, budaya, dan sosialnya. Pembelajaran bagaimana cara
berbicara di depan umum (public speaking)
merupakan sebuah materi wajib yang diberikan kepada pemuda Minang ketika
belajar di surau. Seorang diplomat harus lancar dan lihai dalam menyampaikan
maksud dan tujuannya. Andai saja seorang diplomat kaku dan gagap dalam
berbicara, maka diplomat dari negara lain akan menganggap sebelah mata tujuan
diplomasinya, dan kesepakatan suatu perjanjian akan sulit untuk didapatkan.
“Indak Ado Rotan Aka Pun Jadi”, (tidak ada rotan akar pun jadi). Pepatah ini mengajarkan
kepada kita bahwa jangan hanya bergantung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan
atau kekuasaan yang besar. Selama masih bisa digunakan atau dimanfaatkan,
ranting-ranting akar kayu pun bisa digunakan untuk bahan pengganti rotan.
Begitupun dalam strategi diplomasi. Tidak perlu adanya target mendapatkan
persetujuan dari negara-negara besar dengan menghiraukan negara-negara lemah
yang dianggap sebelah mata di dunia internasional. Kita tidak pernah tahu apa
yang akan terjadi pada negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan, apakah
mereka akan tetap lemah atau bahkan akan menjadi suatu negara digdaya layaknya
USA atau UK saat ini. Pepatah ini digunakan diplomat Indonesia saat mencari
sahabat-sahabat yang siap untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Disaat
negara-negara Eropa tidak bersedia mengakui, maka diplomat Indonesia mengambil
tindakan untuk mencari pengakuan dari negara-negara seperti Mesir dan
Palestina. Hasilnya pun berbuah manis dengan terciptanya sebuah kemerdekaan
bagi Negara Indonesia.
“Tradisi Makan Bajamba”, (makan bersama-sama). Falsafah ini digunakan oleh Hasim
Djalal dalam berdiplomasi. Makan bersama biasanya dibumbui dengan cerita-cerita
yang bisa membuat semua orang yang makan tertawa. Dalam berdiplomasi, Hasim
Djalal mengatakan kepentingan nasional akan tercapai jika kita coba
merealisasikan falsafah ini dalam konteks yang berbeda. Untuk mencapai
kepentingan nasional, kita mesti memberi makan semua orang yang kita butuhkan.
Strategi diplomasi ini sangat cerdik dan membutuhkan diplomat-diplomat khusus
untuk menjalankannya.
Penutup
Minangkabau
kaya akan adat dan budaya. Semua yang tergores dalam petatah-petitih adat
memiliki makna yang luas. Sangat rugi jika seorang pemuda di Minangkabau tidak
mempelajari secara menyeluruh akan kekayaan budaya tersebut. “Alam Takambang Jadi Guru” menjelaskan
bahwa apa yang terjadi di alam, baik itu yang diciptakan ataupun proses
kehidupan yang berjalan merupakan guru bagi seluruh manusia. Kita bisa mempelajari
segala sesuatu dari setiap aktivitas yang terjadi di lingkungan. Begitupun juga
dalam hal diplomasi. Minangkabau era dahulu adalah pencetak diplomat-diplomat
ulung. Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Moh.Hatta, dan tokoh diplomat lain
adalah orang-orang hebat yang berasal dari daerah Minangkabau. Tidak lain dan
tidak bukan mereka belajar dari ilmu-ilmu falsafah yang didapatkan dari
petatah-petitih Minangkabau. Oleh karena itu, semoga tulisan ini bermanfaat
bagi generasi muda terutama para penstudi Hubungan Internasional supaya
mempersiapkan diri menjadi diplomat-diplomat ulung yang akan membawa Indonesia
ke masa kejayaan di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar