Minggu, 28 Mei 2017

“Belajar Diplomasi dari Minangkabau”

Adjie Surya Kelana
Penstudi Hubungan Internasional – Universitas Andalas


Hubungan Internasional merupakan salah satu studi yang sudah sangat lama digunakan dalam kajian sosial dan politik. Pada mulanya berkembang karena adanya niat dari berbagai negara yang menginginkan suatu perdamaian akibat konflik (perang) berkepanjangan yang terjadi di negara-negara benua Eropa. Konflik yang mengakibatkan hadirnya korban-korban jiwa, ekonomi, dan aspek-aspek lainnya dianggap tidak menjunjung Hak-Hak Asasi Manusia yang seharusnya berkehidupan merdeka.

Proses menuju perdamaian menjadi salah satu titik tolak terciptanya perdamaian. Proses tersebut bermacam-macam, ada yang menggunakan jalur diplomasi, hukum, arbitrase, atau perjanjian-perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara bersangkutan.

Indonesia sebagai suatu negara merdeka yang diresmikan melalui pidato proklamasi presiden pertama, Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 menggunakan strategi diplomasi dengan mengirimkan para diplomat ke negara-negara yang ada di dunia untuk mendapatkan pengakuan akan kedaulatan Indonesia saat itu. Demi tercapainya kemerdekaan yang diidam-idamkan masyarakat.

Diplomasi menjadi bagian penting dalam terciptanya perdamaian. Ibaratkan bersilaturrahmi ke rumah tetangga, maka sekat-sekat atau permasalahan yang terjadi selama berkehidupan bermasyarakat bisa diselesaikan dengan komunikasi internal yang baik. Diplomasi yang didasarkan atas kepentingan nasional suatu negara menjadi senjata utama bagi seorang diplomat dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Moh. Hatta, dan diplomat Indonesia lainnya sebelum kemerdekaan berusaha mencari kedaulatan tersebut ke berbagai negara seperti Belanda, Mesir, Palestina, dan lain-lain. Sehingga pada intinya, diplomasi itu bicara mengenai kepentingan nasional. Oleh karena itu, tujuan akhir dari diplomasi tersebut adalah sebuah persetujuan akan kepentingan nasional sebuah negara.

Dalam berdiplomasi, tidak akan tercapai suatu kepentingan nasional jika sang diplomat menyampaikan maksud dan tujuan dengan tidak hati-hati. Penting sekali untuk mengetahui kiat-kiat yang digunakan diplomat-diplomat ulung pada saat zaman penjajahan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu-ilmu falsafah Minangkabau yang tertuang dalam pepatah-pepatah adat Minangkabau.

Falsafah Minangkabau

“Taimpik Nak Diateh, Takuruang Nak Dilua” (terhimpit harus di atas, terkurung harus di luar) merupakan salah satu falsafah yang sangat bagus sekali jika digunakan dalam berdiplomasi. Jika dikaitkan dengan konteks diplomasi, maka makna yang tersirat adalah seorang diplomat harus cerdas dan pandai membaca situasi serta kondisi agar bisa menyelamatkan kepentingan nasionalnya.

“Babaliak Ka Surau” (kembali ke surau). Falsafah yang satu ini merupakan sebuah proses yang dilakukan pria Minangkabau untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan, budaya, dan sosialnya. Pembelajaran bagaimana cara berbicara di depan umum (public speaking) merupakan sebuah materi wajib yang diberikan kepada pemuda Minang ketika belajar di surau. Seorang diplomat harus lancar dan lihai dalam menyampaikan maksud dan tujuannya. Andai saja seorang diplomat kaku dan gagap dalam berbicara, maka diplomat dari negara lain akan menganggap sebelah mata tujuan diplomasinya, dan kesepakatan suatu perjanjian akan sulit untuk didapatkan.

“Indak Ado Rotan Aka Pun Jadi”, (tidak ada rotan akar pun jadi). Pepatah ini mengajarkan kepada kita bahwa jangan hanya bergantung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang besar. Selama masih bisa digunakan atau dimanfaatkan, ranting-ranting akar kayu pun bisa digunakan untuk bahan pengganti rotan. Begitupun dalam strategi diplomasi. Tidak perlu adanya target mendapatkan persetujuan dari negara-negara besar dengan menghiraukan negara-negara lemah yang dianggap sebelah mata di dunia internasional. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan, apakah mereka akan tetap lemah atau bahkan akan menjadi suatu negara digdaya layaknya USA atau UK saat ini. Pepatah ini digunakan diplomat Indonesia saat mencari sahabat-sahabat yang siap untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Disaat negara-negara Eropa tidak bersedia mengakui, maka diplomat Indonesia mengambil tindakan untuk mencari pengakuan dari negara-negara seperti Mesir dan Palestina. Hasilnya pun berbuah manis dengan terciptanya sebuah kemerdekaan bagi Negara Indonesia.

“Tradisi Makan Bajamba”, (makan bersama-sama). Falsafah ini digunakan oleh Hasim Djalal dalam berdiplomasi. Makan bersama biasanya dibumbui dengan cerita-cerita yang bisa membuat semua orang yang makan tertawa. Dalam berdiplomasi, Hasim Djalal mengatakan kepentingan nasional akan tercapai jika kita coba merealisasikan falsafah ini dalam konteks yang berbeda. Untuk mencapai kepentingan nasional, kita mesti memberi makan semua orang yang kita butuhkan. Strategi diplomasi ini sangat cerdik dan membutuhkan diplomat-diplomat khusus untuk menjalankannya.


Penutup


Minangkabau kaya akan adat dan budaya. Semua yang tergores dalam petatah-petitih adat memiliki makna yang luas. Sangat rugi jika seorang pemuda di Minangkabau tidak mempelajari secara menyeluruh akan kekayaan budaya tersebut. “Alam Takambang Jadi Guru” menjelaskan bahwa apa yang terjadi di alam, baik itu yang diciptakan ataupun proses kehidupan yang berjalan merupakan guru bagi seluruh manusia. Kita bisa mempelajari segala sesuatu dari setiap aktivitas yang terjadi di lingkungan. Begitupun juga dalam hal diplomasi. Minangkabau era dahulu adalah pencetak diplomat-diplomat ulung. Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Moh.Hatta, dan tokoh diplomat lain adalah orang-orang hebat yang berasal dari daerah Minangkabau. Tidak lain dan tidak bukan mereka belajar dari ilmu-ilmu falsafah yang didapatkan dari petatah-petitih Minangkabau. Oleh karena itu, semoga tulisan ini bermanfaat bagi generasi muda terutama para penstudi Hubungan Internasional supaya mempersiapkan diri menjadi diplomat-diplomat ulung yang akan membawa Indonesia ke masa kejayaan di masa depan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar