Minggu, 28 Mei 2017

Efektifitas Kebijakan War On Terror

(Respon Teror Bom Kereta Di Rusia)

ADJIE SURYA KELANA
Peneliti Terrorisme and Transnational Crime di Hubungan Internasional Unand

Beberapa hari yang lalu, dunia internasional dikejutkan dengan aksi teror bom yang bermotifkan penggunaan kereta bawah tanah di Saint Petersburg, Rusia. Berbagai spekulasi telah menghiasi opini masyarakat akan tindakan tersebut, banyak yang menganggap serangan tersebut murni tindakan teror. Hingga saya berfikir bahwa apakah Negara dengan tingkat pengamanan seketat Rusia masih bisa dijebol oleh para pelaku teror?
Sejak berakhirnya perang dingin pada awal 1990-an, dunia internasional seakan-akan memiliki musuh bersama yang baru, yaitu Terorisme. Landasan pemikiran tersebut diawali oleh aksi besar Al-Qaeda ke gedung World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001 yang menewaskan sedikitnya 3000 orang. Pasca kejadian itulah Presiden Amerika Serikat saat itu (George W. Bush) mendeklarasikan sebuah kebijakan nasional yang dampaknya melingkupi jangkauan global yang dinamakan dengan War On Terror.  Kebijakan yang emosional itu dikuatkan dengan sepenggal kata yang disampaikan oleh Bush bahwa “America Is Under Attack, Either Us or Againt Us” (Amerika dalam bahaya, mendukung atau menjadi musuh kami).
Kembali ke kasus yang terjadi saat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Rusia bukanlah sebuah Negara yang memiliki sistem keamanan yang buruk. Rusia merupakan Negara yang sangat berani menjadi musuh bebuyutan dari Negara digdaya Amerika Serikat. Jangankan hanya untuk mengamankan wilayah internal Negara, jengkal perbatasan Rusia yang dikepung oleh aliansi pengaman Negara-negara Atlantik Utara atau NATO sangat diawasi secara ketat oleh Rusia. Oleh karena itu, sangat mustahil jika beberapa orang teroris berhasil memasuki Negara ini.
Baru-baru ini tepatnya tahun 2016 Rusia telah membentuk suatu lembaga eksekutif federal yang berfungsi untuk menghentikan setiap kegiatan teror yang akan masuk ke wilayahnya. Organisasi internal itu berfungsi mengamankan setiap wilayah dari ancaman pelaku teror yang pada saat itu memang sedang diadakannya Pemilu di Rusia. Penempatan lembaga nasional ini menjadi sentral pengamanan dalam merespon setiap ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri (Amerika Serikat dan Negara Aliansi NATO menempatkan armada khusus di sekitar wilayah perbatasan Rusia).
Menyambung gagasan sebelumnya, Kebijakan War On Terror bukanlah kebijakan yang dibuat oleh institusi internasional, melainkan hanyalah pemerintah Amerika Serikat yang mendeklarasikan untuk melawan segala bentuk Terorisme di dunia. Namun, secara tidak langsung kebijakan tersebut mesti diaplikasikan di setiap Negara mengingat tujuan utama terrorisme yaitu untuk memberikan efek gangguan mental dan stabilitas politik suatu Negara di dunia.
Banyak perdebatan pro dan kontra mengenai kebijakan yang diedarkan ini. Fokus pemerintah Amerika Serikat untuk melawan Al-Qaeda dijadikan sebagai isu internasional untuk melawan teroris. Negara lain yang tidak memiliki permasalahan khusus dengan Al-Qaeda merasa tidak membutuhkan kebijakan tersebut dan beranggapan bahwa mengikutsertakan diri hanya menambah ruang lingkup Negara-negara musuh Al-Qaeda.
War On Terror Sejak pembentukan dari tahun 2001 memang tidak memberikan pengaruh apapun terhadap gerakan terrorisme. Hanya saja tingkat pengamanan suatu Negara semakin ketat ketika serangan teroris mengancam Negara tersebut. Seperti penyerangan sekelompok teroris di bandara Istanbul Turki, atau juga penyerangan sebuah klub LGBT di Amerika Serikat, dimana pasca kejadian tersebut masing-masing Negara membentuk sebuah badan intelijen masing-masing khusus untuk memberantas terrorisme. Selain itu pengetatan terhadap imigran yang datang juga dijadikan sebagai kebijakan seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat masa pemerintahan Donald Trump baru-baru ini.
Teror Bom di Rusia memiliki titik historis yang sama dengan aksi di Perancis. Negara Perancis saat itu memiliki sebuah agenda besar yakninya ajang sepakbola Piala Eropa. Sedangkan di Rusia saat ini sedang proses persiapan menyambut agenda Sepakbola empat tahunan Piala Dunia. Kembali kepada tujuan utama para pelaku teror yaitu untuk memberikan kecemasan kepada masyarakat internasional, maka Negara Rusia hingga tahun 2018 (berakhirnya piala dunia) harus selalu waspada dan siaga dalam melawan pergerakan terorisme. Karena para pelaku teror hanya butuh eksistensi dan pengakuan di panggung internasional.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempertanyakan apakah kebijakan War On Terror ini yang mana hanya disampaikan melalui lisan masih efektif saat ini tanpa adanya tindakan bersama oleh dunia internasional untuk memberantas aksi terror? Perbedaan gagasan masing-masing Negara dalam memberantas terrorisme akibat keegoisan masing-masing Negara menjadi penghambat sehingga penyatuan kebijakan tidak pernah dihasilkan, seperti Negara Rusia yang menolak dan tidak mau melaksanakan kebijakan selektif imigran seperti yang dilakukan oleh Negara Amerika Serikat dan berbagai Negara lainnya.
Efektif atau tidaknya hanya akan terjawab dengan melihat data perkembangan aksi terror yang ada di dunia. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap tahunnya, aksi teror di dunia tidak kunjung berkurang, malahan semakin bertambah. Selain itu, Negara-negara yang dianggap aman selama ini menjadi Negara yang rawan akan isu terorisme. Jadi menurut saya, penting kiranya untuk mengidentifikasi secara meluas mengapa pelaku teror sekarang mengincar Negara-negara besar seperti AS, Rusia, Perancis, Turki, dan lain-lain.

Oleh karena itu, melawan aksi teror tidak semudah menyampaikan kepada dunia bahwa kita harus melawan teroris. Kebijakan war on terror tidak akan berguna tanpa adanya kesadaran tersendiri dari masyarakat untuk melawan para pelaku teror. Pentingnya pemberian kesadaran dan pengetahuan kepada keluarga dan orang terdekat akan bahaya ajaran radikal adalah salah satu tindakan nyata melawan terorisme. Dan yang terakhir Selektif terhadap orang-orang tidak dikenal serta berhati-hati terhadap ajaran baru yang mengandung anarkisme. Semoga bermanfaat.

“Belajar Diplomasi dari Minangkabau”

Adjie Surya Kelana
Penstudi Hubungan Internasional – Universitas Andalas


Hubungan Internasional merupakan salah satu studi yang sudah sangat lama digunakan dalam kajian sosial dan politik. Pada mulanya berkembang karena adanya niat dari berbagai negara yang menginginkan suatu perdamaian akibat konflik (perang) berkepanjangan yang terjadi di negara-negara benua Eropa. Konflik yang mengakibatkan hadirnya korban-korban jiwa, ekonomi, dan aspek-aspek lainnya dianggap tidak menjunjung Hak-Hak Asasi Manusia yang seharusnya berkehidupan merdeka.

Proses menuju perdamaian menjadi salah satu titik tolak terciptanya perdamaian. Proses tersebut bermacam-macam, ada yang menggunakan jalur diplomasi, hukum, arbitrase, atau perjanjian-perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara bersangkutan.

Indonesia sebagai suatu negara merdeka yang diresmikan melalui pidato proklamasi presiden pertama, Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 menggunakan strategi diplomasi dengan mengirimkan para diplomat ke negara-negara yang ada di dunia untuk mendapatkan pengakuan akan kedaulatan Indonesia saat itu. Demi tercapainya kemerdekaan yang diidam-idamkan masyarakat.

Diplomasi menjadi bagian penting dalam terciptanya perdamaian. Ibaratkan bersilaturrahmi ke rumah tetangga, maka sekat-sekat atau permasalahan yang terjadi selama berkehidupan bermasyarakat bisa diselesaikan dengan komunikasi internal yang baik. Diplomasi yang didasarkan atas kepentingan nasional suatu negara menjadi senjata utama bagi seorang diplomat dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Moh. Hatta, dan diplomat Indonesia lainnya sebelum kemerdekaan berusaha mencari kedaulatan tersebut ke berbagai negara seperti Belanda, Mesir, Palestina, dan lain-lain. Sehingga pada intinya, diplomasi itu bicara mengenai kepentingan nasional. Oleh karena itu, tujuan akhir dari diplomasi tersebut adalah sebuah persetujuan akan kepentingan nasional sebuah negara.

Dalam berdiplomasi, tidak akan tercapai suatu kepentingan nasional jika sang diplomat menyampaikan maksud dan tujuan dengan tidak hati-hati. Penting sekali untuk mengetahui kiat-kiat yang digunakan diplomat-diplomat ulung pada saat zaman penjajahan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menggunakan ilmu-ilmu falsafah Minangkabau yang tertuang dalam pepatah-pepatah adat Minangkabau.

Falsafah Minangkabau

“Taimpik Nak Diateh, Takuruang Nak Dilua” (terhimpit harus di atas, terkurung harus di luar) merupakan salah satu falsafah yang sangat bagus sekali jika digunakan dalam berdiplomasi. Jika dikaitkan dengan konteks diplomasi, maka makna yang tersirat adalah seorang diplomat harus cerdas dan pandai membaca situasi serta kondisi agar bisa menyelamatkan kepentingan nasionalnya.

“Babaliak Ka Surau” (kembali ke surau). Falsafah yang satu ini merupakan sebuah proses yang dilakukan pria Minangkabau untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan, budaya, dan sosialnya. Pembelajaran bagaimana cara berbicara di depan umum (public speaking) merupakan sebuah materi wajib yang diberikan kepada pemuda Minang ketika belajar di surau. Seorang diplomat harus lancar dan lihai dalam menyampaikan maksud dan tujuannya. Andai saja seorang diplomat kaku dan gagap dalam berbicara, maka diplomat dari negara lain akan menganggap sebelah mata tujuan diplomasinya, dan kesepakatan suatu perjanjian akan sulit untuk didapatkan.

“Indak Ado Rotan Aka Pun Jadi”, (tidak ada rotan akar pun jadi). Pepatah ini mengajarkan kepada kita bahwa jangan hanya bergantung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang besar. Selama masih bisa digunakan atau dimanfaatkan, ranting-ranting akar kayu pun bisa digunakan untuk bahan pengganti rotan. Begitupun dalam strategi diplomasi. Tidak perlu adanya target mendapatkan persetujuan dari negara-negara besar dengan menghiraukan negara-negara lemah yang dianggap sebelah mata di dunia internasional. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan, apakah mereka akan tetap lemah atau bahkan akan menjadi suatu negara digdaya layaknya USA atau UK saat ini. Pepatah ini digunakan diplomat Indonesia saat mencari sahabat-sahabat yang siap untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Disaat negara-negara Eropa tidak bersedia mengakui, maka diplomat Indonesia mengambil tindakan untuk mencari pengakuan dari negara-negara seperti Mesir dan Palestina. Hasilnya pun berbuah manis dengan terciptanya sebuah kemerdekaan bagi Negara Indonesia.

“Tradisi Makan Bajamba”, (makan bersama-sama). Falsafah ini digunakan oleh Hasim Djalal dalam berdiplomasi. Makan bersama biasanya dibumbui dengan cerita-cerita yang bisa membuat semua orang yang makan tertawa. Dalam berdiplomasi, Hasim Djalal mengatakan kepentingan nasional akan tercapai jika kita coba merealisasikan falsafah ini dalam konteks yang berbeda. Untuk mencapai kepentingan nasional, kita mesti memberi makan semua orang yang kita butuhkan. Strategi diplomasi ini sangat cerdik dan membutuhkan diplomat-diplomat khusus untuk menjalankannya.


Penutup


Minangkabau kaya akan adat dan budaya. Semua yang tergores dalam petatah-petitih adat memiliki makna yang luas. Sangat rugi jika seorang pemuda di Minangkabau tidak mempelajari secara menyeluruh akan kekayaan budaya tersebut. “Alam Takambang Jadi Guru” menjelaskan bahwa apa yang terjadi di alam, baik itu yang diciptakan ataupun proses kehidupan yang berjalan merupakan guru bagi seluruh manusia. Kita bisa mempelajari segala sesuatu dari setiap aktivitas yang terjadi di lingkungan. Begitupun juga dalam hal diplomasi. Minangkabau era dahulu adalah pencetak diplomat-diplomat ulung. Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Moh.Hatta, dan tokoh diplomat lain adalah orang-orang hebat yang berasal dari daerah Minangkabau. Tidak lain dan tidak bukan mereka belajar dari ilmu-ilmu falsafah yang didapatkan dari petatah-petitih Minangkabau. Oleh karena itu, semoga tulisan ini bermanfaat bagi generasi muda terutama para penstudi Hubungan Internasional supaya mempersiapkan diri menjadi diplomat-diplomat ulung yang akan membawa Indonesia ke masa kejayaan di masa depan. 

Minggu, 14 Mei 2017

“Jaga Idealisme Selalu Bang (Anies Baswedan)”

Adjie Surya Kelana
Mahasiswa FISIP Unand dan Anggota HMI Cabang Padang

Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno resmi dinyatakan sebagai pemenang dalam pilkada DKI Jakarta sesuai keputusan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Hasil Real Count KPU memperlihatkan hampir 58% suara masyarakat DKI yang terdaftar sebagai pemilih menggunakan hak pilihnya untuk pasangan nomor urut 3 tersebut.

Kemenangan itu tidak luput dari perjuangan yang berat oleh kedua pasangan calon. Namun pada tulisan ini saya hanya akan berfokus kepada Anies Baswedan. Dengan latar belakang kesamaan organisasi menjadikan suatu hal yang menarik bagi saya untuk melihat bagaimana perjuangan Anies dalam dunia perpolitikan. Meskipun banyak terjadi kejanggalan dan opini kabur dalam setiap kegiatan kampanye, namun dideklarasikannya kampanye damai menjadi titik akhir dari setiap opini-opini rusak yang hampir tertanam dalam setiap pemikiran seluruh masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Anies Baswedan orang yang sangat tenang, santai, namun tegas dalam setiap pengambilan keputusan. Idealisme sebagai seorang manusia yang memiliki hak-hak dan kewajiban untuk merdeka selalu tertanam dalam pribadi seorang Anies. Saya masih ingat ketika membaca sebuah buku tentang bagaimana peliknya masa-masa orde baru. Disaat itu, seluruh organisasi mahasiswa diharuskan untuk mengganti ideologi organisasi menjadi Pancasila. Namun idealisme yang tertanam tersebutlah yang membuat kepercayaan diri Anies untuk tetap melanjutkan Ideologi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai ideologi perjuangan.

Pada masa orde baru, siapapun yang melanggar aturan yang dibuat pemerintah maka akan dijamin bahwa hari-hari esok dan masa depannya tidak jelas. Bagi siapapun yang mendengar hal tersebut tentunya mau tidak mau mesti mengikuti apa aturan yang dibuat pemerintah. Namun bagaimana dengan Anies? Bersama kawan-kawan HMI MPO Anies tetap menjalankan roda organisasi dengan menempatkan ideologi HMI sebagai ideologi organisasi. Ancaman yang diberikan oleh pemerintah tidak menggetarkan jiwa mereka untuk terus melanjutkan roda perjuangan. Idealisme adalah harga diri terakhir yang mesti diperjuangkan.

Keputusan yang sangat sulit memang diambil oleh Anies Baswedan untuk bergabung dengan HMI MPO. Banyaknya para kader HMI yang mengganti ideologi menjadi pancasila tidak mematahkan semangat Anies untuk tetap bergabung dengan HMI MPO. Keyakinan dan kekuatan untuk tidak tergiur dengan masa depan cerah itulah prinsip teguh yang digunakan oleh Anies sejak berjuang menjadi seorang mahasiswa.

Sekarang Anies Baswedan sudah dipastikan sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang tinggal diresmikan melalui pelantikan pada oktober 2017. Menjadi kepala daerah bukanlah sesuatu yang mudah. Gonjang-ganjing tentang adanya para-para elit politik yang akan memanfaatkan seorang pimpinan selalu menghiasi dunia perpolitikan. Namun, melihat latar belakang seorang Anies Baswedan, tidak akan diragukan lagi bahwa kestabilan politik akan tercipta jika idealismenya yang saya banggakan selama ini tetap dipegang teguh oleh Anies. karena memang hanya idealisme itulah yang bisa membawa Anies tetap konsisten dan komitmen terhadap setiap rancangan visi misi yang telah dibangun saat masa-masa kampanye.

Rabu, 25 Mei 2016

Jangan Takut Untuk Beraksi Kaum Pion !!!

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Kaum pion, begitulah saya menganalogikan beberapa individu dan kelompok manusia saat ini. Pion merupakan suatu bidak dalam elemen permainan catur yang hanya bisa berjalan 1 langkah ke depan dan tidak bisa kesamping maupun ke belakang seperti beberapa bidak lainnya. Namun meskipun begitu pion memiliki keunggulan yang istimewa, yaitu apabila dia mencapai titik akhir jalannya, maka dirinya bisa mengubah (mengganti) dengan bidak lain sesuai keinginannya. Pion merupakan suatu analogi yang saya fikir bisa dikategorikan sebagai masyarakat ekonomi menengah kebawah saat ini. Karena dalam tatanan hidup saat ini, masyarakat ekonomi menengah keatas memang menguasai segala sektor baik itu pendidikan, politik, profesi, dan lain-lain. Tingginya biaya pendidikan di sekolah-sekolah terbaik mengakibatkan para siswa-siswa berprestasi yang berasal dari keluarga miskin lebih memilih untuk menuntut ilmu di sekolah yang bertaraf pembayaran lebih murah meskipun kualitasnya jauh di bawah sekolah-sekolah dengan biaya mahal tersebut. Perpolitikan juga begitu, standar ekonomi menjadi persoalan penting jika ingin “berpacu” dalam dunia perpolitikan. Negara demokrasi dengan kebebasan berbivara seakan-akan tidak didengar lagi oleh penguasa. Masyarakat yang ingin merubah gaya dan arah kebijakan politik terhalang oleh minimnya dana jika dibandingkan dengan keinginan tersebut. Senada dengan dunia politik, profesi saat ini (sesuai banyak yang disampaikan dalam berita) masih banyak terjadi nepotisme (aktivitas orang dalam) yang membantu golongan masyarakat ekonomi menengah keatas untuk mempermudah jalan mereka dengan biaya yang sudah mereka miliki, sedangkan masyarakat ekonomi menengah kebawah dituntut untuk bekerja ekstra keras supaya bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Jelaslah apa inti dari apa yang menjadi tema tulisan saya, bahwa masyarakat ekonomi menengah kebawah saya analogikan sebagai bidak pion dalam permainan catur. Masyarakat ekonomi menengah kebawah bukan dituntut untuk menyerah, melainkan Mereka juga bisa maju kedepan dan merubah nasib mereka apakah menjadi queen atau benteng dan lain-lain. Kita sebagai masyarakat ekonomi menengah kebawah-pun hendaknya bisa memanfaatkan keadaan semaksimal mungkin, jika ekonomi yang menjadi factor utama penghambat jalan kita, cari tempat yang bisa kita jadikan sebagai tempat berproses atau tempat belajar untuk terus mengejar cita-cita demi kehidupan yang layak nantinya dengan biaya terjangkau meskipun kualitasnya tidak sebagus dengan apa yang diinginkan. Banyak sekali dilihat dari sejarah bahwa tokoh-tokoh besar dahulunya berasal dari keluarga yang tidak berpunya, seperti Hendry ford (Bapak Mobil Amerika) dahulunya hanyalah seorang anak yang mencintai mesin namun diinginkan menjadi petani oleh ayahnya. Namun karena tekad dan usaha yang dilakukan untuk berjalan terus kedepan (layaknya pion), cita-citanya untuk bekerja dengan mesin. Albert Einstein juga berasal dari golongan masyarakat ekonomi menengah kebawah, beliau adalah anak dari Herman Einstein yang merupakan seorang penjual ranjang bulu. Berkat ketekunannya dalam belajar dan selalu mencoba melakukan eksperiment, dunia memberikannya penghargaan atas teori relativitas yang diciptakannya. Usaha memang tidak mengkhianati proses. Perjalanan cukup jauh dilewati oleh bidak pion dalam permainan catur untuk bisa merubah dirinya menjadi besar (layaknya king dan queen). Hendaknya para generasi muda saat ini jangan hanya bisa menyerah dengan kondisi, semua harus bisa bangkit dan mengalahkan bentuk-bentuk penghambat seperti ekonomi. Namun harus selalu diingat bahwasannya bidak pion tersebut merubah dirinya menjadi bidak yang lebih besar adalah untuk memenangkan tim-nya. Begitu juga hendaknya kita sebagai manusia, ketika menjadi besar jangan lupakan keluarga, lingkungan dan masyarakat. Kita besar bukan berarti berupaya terus membesarkan diri sendiri, masih banyak orang lain yang juga ingin besar bersama kita. Besar-membesarkan dan saling membesarkan adalah kunci untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Wassalam.

Selasa, 24 Mei 2016

Organisasi - Wadah Hidup Bersosial.

Nama saya Adjie Surya Kelana, anak ke-4 dari 5 orang bersaudara. saya berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun memiliki tekad dan keyakinan bahwa nantinya akan menjadi orang besar yang akan membesarkan bahkan sama-sama besar dengan orang-orang lainnya.
Dalam perjalanan hidup saya menyukai organisasi, baik itu yang formal seperti di sekolah maupun kampus, maupun yang non-formal seperti di kepemudaan dan lain-lain. saya beranggapan bahwa kehidupan sosial saya tidak akan terbentuk dan berkembang jika saya hanya selalu bermain bersama teman-teman saya atau menghabiskan waktu bersama orang yang saya sayangi saja. menurut saya, organisasi merupakan tempat belajar dan juga tempat bersosial yang paling lengkap, karena disana kita akan menemukan watak-watak yang berbeda dengan kita yang sering beradu pemikiran dengan kita.
di SMA, saya termasuk aktif di OSIS dengan menjabat sebagai ketua OSIS. di lingkungan masyarakat-pun saya juga aktif di Remaja Masjid dan organisasi kepemudaan lainnya. sekarang di perguruan tinggi, saya lebih memilih untuk bergabung bersama Himpunan Mahasiswa Islam dikarenakan banyak hal bermanfaat yang saya dapatkan yang bisa mengembangkan bakat dan minat (kepemimpinan) saya dan juga ilmu yang bermanfaat.