Rabu, 25 Mei 2016

Jangan Takut Untuk Beraksi Kaum Pion !!!

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Kaum pion, begitulah saya menganalogikan beberapa individu dan kelompok manusia saat ini. Pion merupakan suatu bidak dalam elemen permainan catur yang hanya bisa berjalan 1 langkah ke depan dan tidak bisa kesamping maupun ke belakang seperti beberapa bidak lainnya. Namun meskipun begitu pion memiliki keunggulan yang istimewa, yaitu apabila dia mencapai titik akhir jalannya, maka dirinya bisa mengubah (mengganti) dengan bidak lain sesuai keinginannya. Pion merupakan suatu analogi yang saya fikir bisa dikategorikan sebagai masyarakat ekonomi menengah kebawah saat ini. Karena dalam tatanan hidup saat ini, masyarakat ekonomi menengah keatas memang menguasai segala sektor baik itu pendidikan, politik, profesi, dan lain-lain. Tingginya biaya pendidikan di sekolah-sekolah terbaik mengakibatkan para siswa-siswa berprestasi yang berasal dari keluarga miskin lebih memilih untuk menuntut ilmu di sekolah yang bertaraf pembayaran lebih murah meskipun kualitasnya jauh di bawah sekolah-sekolah dengan biaya mahal tersebut. Perpolitikan juga begitu, standar ekonomi menjadi persoalan penting jika ingin “berpacu” dalam dunia perpolitikan. Negara demokrasi dengan kebebasan berbivara seakan-akan tidak didengar lagi oleh penguasa. Masyarakat yang ingin merubah gaya dan arah kebijakan politik terhalang oleh minimnya dana jika dibandingkan dengan keinginan tersebut. Senada dengan dunia politik, profesi saat ini (sesuai banyak yang disampaikan dalam berita) masih banyak terjadi nepotisme (aktivitas orang dalam) yang membantu golongan masyarakat ekonomi menengah keatas untuk mempermudah jalan mereka dengan biaya yang sudah mereka miliki, sedangkan masyarakat ekonomi menengah kebawah dituntut untuk bekerja ekstra keras supaya bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Jelaslah apa inti dari apa yang menjadi tema tulisan saya, bahwa masyarakat ekonomi menengah kebawah saya analogikan sebagai bidak pion dalam permainan catur. Masyarakat ekonomi menengah kebawah bukan dituntut untuk menyerah, melainkan Mereka juga bisa maju kedepan dan merubah nasib mereka apakah menjadi queen atau benteng dan lain-lain. Kita sebagai masyarakat ekonomi menengah kebawah-pun hendaknya bisa memanfaatkan keadaan semaksimal mungkin, jika ekonomi yang menjadi factor utama penghambat jalan kita, cari tempat yang bisa kita jadikan sebagai tempat berproses atau tempat belajar untuk terus mengejar cita-cita demi kehidupan yang layak nantinya dengan biaya terjangkau meskipun kualitasnya tidak sebagus dengan apa yang diinginkan. Banyak sekali dilihat dari sejarah bahwa tokoh-tokoh besar dahulunya berasal dari keluarga yang tidak berpunya, seperti Hendry ford (Bapak Mobil Amerika) dahulunya hanyalah seorang anak yang mencintai mesin namun diinginkan menjadi petani oleh ayahnya. Namun karena tekad dan usaha yang dilakukan untuk berjalan terus kedepan (layaknya pion), cita-citanya untuk bekerja dengan mesin. Albert Einstein juga berasal dari golongan masyarakat ekonomi menengah kebawah, beliau adalah anak dari Herman Einstein yang merupakan seorang penjual ranjang bulu. Berkat ketekunannya dalam belajar dan selalu mencoba melakukan eksperiment, dunia memberikannya penghargaan atas teori relativitas yang diciptakannya. Usaha memang tidak mengkhianati proses. Perjalanan cukup jauh dilewati oleh bidak pion dalam permainan catur untuk bisa merubah dirinya menjadi besar (layaknya king dan queen). Hendaknya para generasi muda saat ini jangan hanya bisa menyerah dengan kondisi, semua harus bisa bangkit dan mengalahkan bentuk-bentuk penghambat seperti ekonomi. Namun harus selalu diingat bahwasannya bidak pion tersebut merubah dirinya menjadi bidak yang lebih besar adalah untuk memenangkan tim-nya. Begitu juga hendaknya kita sebagai manusia, ketika menjadi besar jangan lupakan keluarga, lingkungan dan masyarakat. Kita besar bukan berarti berupaya terus membesarkan diri sendiri, masih banyak orang lain yang juga ingin besar bersama kita. Besar-membesarkan dan saling membesarkan adalah kunci untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Wassalam.

Selasa, 24 Mei 2016

Organisasi - Wadah Hidup Bersosial.

Nama saya Adjie Surya Kelana, anak ke-4 dari 5 orang bersaudara. saya berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun memiliki tekad dan keyakinan bahwa nantinya akan menjadi orang besar yang akan membesarkan bahkan sama-sama besar dengan orang-orang lainnya.
Dalam perjalanan hidup saya menyukai organisasi, baik itu yang formal seperti di sekolah maupun kampus, maupun yang non-formal seperti di kepemudaan dan lain-lain. saya beranggapan bahwa kehidupan sosial saya tidak akan terbentuk dan berkembang jika saya hanya selalu bermain bersama teman-teman saya atau menghabiskan waktu bersama orang yang saya sayangi saja. menurut saya, organisasi merupakan tempat belajar dan juga tempat bersosial yang paling lengkap, karena disana kita akan menemukan watak-watak yang berbeda dengan kita yang sering beradu pemikiran dengan kita.
di SMA, saya termasuk aktif di OSIS dengan menjabat sebagai ketua OSIS. di lingkungan masyarakat-pun saya juga aktif di Remaja Masjid dan organisasi kepemudaan lainnya. sekarang di perguruan tinggi, saya lebih memilih untuk bergabung bersama Himpunan Mahasiswa Islam dikarenakan banyak hal bermanfaat yang saya dapatkan yang bisa mengembangkan bakat dan minat (kepemimpinan) saya dan juga ilmu yang bermanfaat.